Saturday, March 21, 2015

Self Disclosure, Self Image, and Self Presentation

Halo.. Selamat malam, good night, wan shang hao, konbawa, guten abend..
Malam ini aku mau ngepost materi kedua dan ketiga dari mata kuliah Hubungan Antar Person. Tapi, berhubung materinya segandeng jadi aku jadikan 1 postingan.

Maaf banget baru ngeblog materi ini, karena kemarin aku nggak sempet bisa mikir mau ngeblog apa. Aku sibuk ngerjain revisian skripsi, sibuk main socmed:p, dan aku juga sempet pulang ke Jakarta liat ponakanku yg baru lahir. Selama di Jakarta aku nggak megang laptop sama sekali! Revisianku juga nggak terkerjakan sama sekali. Alhasil aku ngebut kejar tayang hari seninnya buat ngerevisi karena besoknya hasil revisianku ditagih. Hmm.., oke daripada berlama-lama aku mau mulai refleksi diri mengenai Self Disclosure, Self Image, dan Self Presentation.

========================================================================

Setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Kebanyakan manusia juga tidak menyadari apa kelebihannya dan kekurangannya. Sama seperti yang aku lakukan disini. Aku tidak tahu harus menulis apa tentang diriku. Bukan. Bukan tidak tahu seperti apa diriku ini. Aku hanya tidak tahu bagaimana aku memulainya. Apakah aku harus menceritakan bagaimana kekuranganku? Atau aku menceritakan bagaimana kelebihanku? Setiap hidup haruslah menghadapi kesusahan terlebih dahulu untuk mencapai kesenangan, karena alasan inilah aku akan mencerita bagaimana kekuranganku.

Aku adalah orang yang sangat moody. Aku adalah orang yang sangat mudah berubah mood-nya. Ketika aku sedang merasa senang dan tiba-tiba ada yang membuatku marah, seketika mood aku memburuk. Tetapi, seketika itu juga mood aku membaik. Hahaha... Tidak. Aku bukan orang yang mengalami gangguan mood. Aku yang seperti itu tidak sering kok. Hanya pada saat waktu tertentu saja. Mungkin karena moody aku sangat terlihat di depan umum, temanku mengakuinya.
Aku adalah orang yang mudah panik. Buruknya, ketika aku panik aku bisa saja memarahi orang-orang terdekatku, atau aku menangis sambil sedikit berteriak. Yaa memang tidak semua hal aku mudah panik. Tetapi jika diangkakan (1-10, tidak panik - sangat panik), angka kepanikanku berada di angka 8 . Lagi-lagi temanku mengakuinya.
Aku adalah orang yang cuek. Aku tidak peduli dengan sekitarku, aku tidak peduli bagaimana penampilanku, aku tidak peduli dengan apa kata orang, aku juga tidak peduli apabila mereka membenciku, dan yang paling parahnya aku suka tidak peduli tentang permasalahan teman. Hingga terkesan, aku ini orang yang tidak memiliki empati.
Aku adalah orang yang egois. Aku terlalu cuek dengan sekitarku karena aku terlalu memikirkan diriku sendiri. Memang kekuranganku yang satu ini jarang sekali aku tunjukkan di depan teman-temanku. Aku hanya bisa menjadi egois di depan keluarga dan pacarku.
Aku adalah orang yang pelit. Berat rasanya meminjamkan sesuatu ke orang lain atau hanya untuk memberi uang kepada pengemis aku enggan mengeluarkan uang. Teman-temanku menganggap aku adalah manusia yang hedon, adalah manusia yang senang menghambur-hamburkan uang. Tetapi mereka tidak tahu, untuk keperluan diriku sendiri saja aku berpikir sampai dua kali untuk membelinya. Memang kata teman-temanku, aku terlihat dari penampilan seperti orang "berada", tetapi itu hanya kelihatannya saja. Pakaian yang aku kenakan murah meriah. Mungkin memang pembawaanku "wah". Hahaha... Ya, ini juga termasuk kekuranganku, aku manusia yang sombong.

Tetapi, dibalik beberapa kekuranganku, aku memiliki segudang kelebihan.
Di balik aku yang moody, aku adalah orang yang penyabar. Teman-temanku tidak mengetahui bahwa aku adalah orang yang sabar. Ketika aku mendapati suatu masalah yang membuatku rasanya ingin marah, aku masih bisa menahan amarahku melebihi teman-temanku (Ya mungkin saja). Ketika ada suatu hal yang membuatku bersedih, aku berusaha sabar dan tetap tersenyum dan bersikap konyol di depan teman-temanku.
Aku tidak selamanya mudah panik. Terkadang aku bisa menjadi orang yang paling tenang ketika sedang dibawah tekanan. Bahkan, aku bisa membantu orang lain untuk bersikap tenang ketika suasana sedang mendesak. Hanya teman dekatku saja yang mengetahui bahwa aku adalah orang yang bisa tenang ketika mereka tahu bahwa kondisi tersebut membuatku panik.
Aku juga tidak selamanya bersikap egois. Aku juga bisa mengalah agar tidak terjadi pertikaian antara aku dengan teman-temanku, aku dengan pacarku, aku dengan saudaraku. Aku merasa ketika usiaku telah menginjak 20 tahun, aku harus menjadi manusia yang dapat menahan id di dalam diri aku. Aku harus bisa bersikap dan berpikir dewasa.
Aku tidak selamanya cuek. Aku juga memikirkan dan mendengarkan bagaimana pandangan mereka tentang diriku. Aku juga tidak selalu menjadi manusia yang tidak peduli lingkungan sekitar. Aku juga tidak selalu menjadi manusia yang tidak memiliki pengertian dan kepedulian. Terkadang aku bisa menjadi manusia yang paling pengertian dan peduli. Ketika orang banyak tidak bisa menerima orang itu, disitu aku bisa menjadi manusia yang paling mengerti bagaimana orang tersebut.

Selain dari yang aku ceritakan di atas, aku ingin menambahkan..
Aku ini adalah orang yang perfeksionis. Teman dekatku pernah mengatakan hal tersebut kepadaku, karena menurut dia aku adalah orang yang paling tekun dalam mengerjakan tugas dan paling ingin terlihat bagus.
Aku ini adalah orang yang perhatian. Ketika adikku memikirkan ia ingin kuliah jurusan apa, aku pun sering menanyakan, membantunya, dan memberi masukan yang sebaik-baiknya.
Aku ini adalah orang yang tidak begitu pintar bergaul. Terkadang aku tidak tahu harus memulai percakapan dari mana dengan orang baru. Selain itu juga, aku tidak begitu senang berada dikeramaian. Aku senang menghabiskan waktuku di dalam kamar hanya sekedar bernyanyi atau nonton youtube.
Aku ini....
Aku ini......
Aku ini........

Masih banyak lagi sebenarnya, tetapi hanya ini saja yang bisa aku bagi di blog ini. Maaf apabila ada kesalahan dalam penyampaian dan penulisan. Aku ini hanyalah manusia yang masih belajar...

danke....

Friday, March 20, 2015

Komunikasi Verbal dan Komunikasi Non Verbal

Halo.. Selamat siang, good afternoon, shang wu hao, konichiwa, guten tag..
Siang ini aku mau mempost refleksi diri materi Hubungan Antar Person yang keempat dan kelima. Karena satu tipe maka aku jadikan 1 postingan.

Mohon dibaca dan dikomentari yaa...

========================================================================

Hai, namaku Dina Permata Sari. Keluargaku biasa memanggilku Ayi dan teman-temanku atau orang luar lainnya memanggilku Dina. Bulan Januari yang lalu, tepatnya tanggal 16 aku mulai menginjak usia 21 tahun. Bukan usia yang muda lagi, melainkan usia yang mulai menginjak kematangan dalam berpikir, pribadi, dan bertindak. Saat ini aku tengah menempuh semester 8 di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya. Peminatan yang aku ambil adalah psikologi klinis.

Aku terlahir di kota Padang, Sumatra Barat. Dari bayi sampai aku lulus SMP aku disana dan ketika aku memasuki SMA aku pindah ke Palembang, Sumatra Selatan. Well, sebenarnya nggak begitu beda orang Padang dengan orang Palembang, yang membedakan hanyalah bahasa dan tingkat kekasaran dalam berbicara. Aku sempat shock tinggal di Palembang. Mereka berbicara ketus, terkesan menyentak menurut pendengaranku.

Cukup setahun lamanya aku mulai terbiasa dengan itu semua. Aku bisa mengikuti alur mereka. Ditambah lagi aku sempat berpacaran dengan orang Palembang. Pada awalnya sering kami terjadi kesalahpahaman. Maksudnya ia tidak bermaksud menyentakku, tapi aku ngerasa aku sedang dibentaknya. Hingga akhirnya aku pun terbiasa mendengar suara mereka yang keras, terkesan mendominasi, dan tutur katanya yang sedikit terdengar kasar. Aku bisa mengerti karena teman-temanku juga demikian, pacar teman-temanku juga demikian, dan guru di sekolahku pun juga demikian. Tetapi sayangnya hanya 1, mereka tidak bisa menerima bagaimana bentuk wajahku. Aku sudah terlahir dengan wajah yang tidak ramah. Bukan berarti aku tidak pernah tersenyum. Aku orangnya senang tersenyum, tetapi ketika sendirian, sedang serius, atau sedang memperhatikan guru menerangkan, aku terlihat sedang mengintimidasi mereka (menurut mereka). Sedih rasanya.. Bahkan aku sempat  dua kali dipermalukan di depan kelas oleh guru yang sama. Awalnya aku biasa saja dipermalukan olehnya, bahkan sempat diusir dari kelas karena wajahku. Tapi lama kelamaan teman-teman baikku mau memberitahuku bahwa aku harus rajin tersenyum. Maka aku pelan-pelan berubah, mau tersenyum sendiri meskipun sedikit dipaksakan. Dipermalukan yang kedua pada saat aku kelas tiga. Aku terlambat masuk kelas karena aku kehilangan kunci loker untuk mengambil buku. Maka aku ke kelas sebelah untuk meminjam buku. Saat aku masuk kelas, aku mengetuk, meminta maaf karena telat, dan tidak lupa senyuman. Bukan kalimat yang enak aku dengar, melainkan kalimat-kalimat yang menyakitkan hati aku. Di depan kelas aku dibilang "Rai kau busuk! Aku dak seneng samo kau ado di kelas aku! Dak katek senyumnyo!". Tersentak dibuatnya. Aku terdiam. temenku membelaku, ia mengatakan bahwa aku ada tersenyum di depannya, tapi guruku membantah. "Dak usah kau bela dio! Rai busuk cak itu dak katek senyumnyo di depan aku!". Aku cuma bisa menunduk. Aku cuma bisa menangis. Aku cuma bisa berdiam diri. Dan aku cuma bisa bersabar...

Lulus dari SMA, aku melanjutkan sekolah di Surabaya. Beda suasana, beda budaya, beda karakter orangnya. Di sini, aku berusaha menjadi orang yang baru. Seseorang yang mau tersenyum, seseorang yang ramah dalam bertutur kata, seseorang yang lebih tenang dalam berbicara. Tapi ternyata sama saja. Aku tetap dinilai orang yang jutek dan kalau berbicara kasar. Orang-orang sering salah paham dengan nada bicaraku. Aku sampai heran katanya orang Surabaya adalah orang yang kasar, tetapi kenapa kalau aku berbicara mereka langsung mengatakan "Wah, si Dina kasar"?

Well, sebenarnya aku nggak begitu percaya dengan slogan "Wong Suroboyo itu kasar", soalnya aku ngelihat teman-temanku kalau berbicara sama temen perempuan, nada bicara mereka lebih pelan dan halus. Beda dengan cowok Palembang yang terkesan mengintimidasi perempuan dengan nada yang kasar dan keras. Aku juga beruntung sekarang pacaran dengan orang Jawa:). Dia nggak pernah kasar sama aku dan sangaaaaat penyabar. hahaha

Sejak aku pacaran dengan pacarku ini, hari-hariku kembali suram. Aku dibilang nggak sopan sama teman-temannya karena wajahku yang terkesan tidak ramah. Gara-gara itu aku sempat bertengkar dengan pacarku. Dia memaksaku untuk berubah. Aku sudah bilang bahwa aku pelan-pelan mulai berubah. Aku sudah merubah diriku sejak SMA dulu. Ini sudah bawaan fisik aku, gimana aku bisa berubah lagi? Apa aku harus operasi plastik?

Pulang dari pertengkaran itu aku menangis dan mengadu ke mamaku. "Kenapa hidupku terasa tidak adil? Kenapa Allah memberiku wajah yang jutek? Padahal aku udah mulai merubah pelan-pelan dengan rajin tersenyum. Kenapa aku terlahir dengan nada bicara yang terdengar ketus dan keras? Padahal aku sudah mulai pelan-pelan berbicara tenang dan satun. Kenapa?". Mamaku mengatakan padaku, "Siapa pun kamu jadilah dirimu sendiri, berubah menjadi lebih baik itu bagus, tapi berubah menjadi orang lain itu tidak baik. Bersyukurlah kamu dilahirkan seperti ini, dengan begini kamu bisa menemukan siapa orang yang benar-benar mengerti dan tulus berteman sama kamu. Cuek saja dengan mereka yang suka menghina tanpa membantumu membenah diri."

Setelah dikasih tahu mamaku begitu, rasanya hati ini plong. Ditambah lagi mamaku memanggil pacarku ke rumah untuk membicarakan seperti apa diriku ini. Untungnya pacarku bisa mengerti bagaimana aku ini. Watak asliku memanglah yang seperti ini. Aura wajahku memanglah seperti ini. Aku tidak bermaksud kasar, tidak bermaksud membuat wajahku menjadi jutek. Aku orangnya suka berteman, suka tertawa, suka tersenyum, mungkin memang sudah karakter wajahku dan nada bicaraku yang seperti ini.

Tidak lama kemudian, baru saja semester 6 yang lalu, salah satu dosen klinis membicarakanku di depan anak-anak magang UPP. Dia mengatakan "Si Dina itu nggak bisa senyum? Males aku lihat wajahnya tiap di kelas". Aku mendapat laporan dari temanku yang juga magang UPP. Baru saja hari itu dibicarakan langsung disampaikan ke aku. Aku hanya bisa tertawa. Aku sudah tidak peduli. Cukup tahu saja seorang dosen yang sudah berprofesi psikolog dan selalu menggembor-gemborkan kata "Individual Differences" malah asal menjugde dari wajahnya saja.

Aku mulai terbiasa dengan semua ini. Orang-orang banyak mengira aku jutek dan kasar, aku sudah tidak begitu mempedulikannya. Memang sudah jadi label diriku begitu. Tetapi setidaknya aku memiliki teman yang benar-benar tulus dan mengerti siapa diriku walaupun hanya segelintir..

Tuesday, March 3, 2015

Dasar Filosofi & Motivasi Sosial

Selamat malam, pembaca. Jumpa lagi dengan Dina, si tukang corat-coret blog ini. Hehehe...

Kita hidup di dunia ini pasti dong saling berinteraksi dengan manusia lainnya? Memang pada umumnya kita adalah makhluk sosial. Nah, kalian pernah nyadar nggak sih untuk apa kalian berinteraksi atau ngobrol-ngobrol dengan sosial kalian? Kalian udah ngobrol dengan berapa orang pada hari ini? Hari ini kalian pertama ngobrol dengan siapa? Tujuannya buat apa? Pernah nggak terpikir begitu? Well, aku baru kepikiran akan hal ini karena pada hari ini di kelas Hubungan Antar Person, kami membahas tentang dasar filosofi dan motivasi sosial. Di dalam teori tersebut ada beberapa dasar filosofi kenapa manusia mau melakukan interaksi sosial, yaitu:

1. Dasar kesehatan mental
Yaitu seseorang mau berinteraksi karena untuk memenuhi kebutuhan mental mereka. Dengan seringnya berinteraksi dengan orang lain, mereka merasa pikiran dan mental mereka menjadi sehat (kayaknya sih gitu pengertiannya. Menurutku loh ya. Maaf kalo salah. hehe)
2. Dasar kualitas hidup
Yaitu seseorang ketika semakin dikenal atau semakin dipandang oleh orang lain, ia menganggap hal itu merupakan suatu yang baik untuk hidupnya
3. Dasar Kesehatan fisik
Yaitu ketika seseorang mampu mengekspresikan perasaannya atau apa yang ada dipikirannya, orang tersebut akan merasa sehat
4. Dasar aktualisasi diri
5. Dasar eksistensi diri
Yaitu dasar sebagai manusia dan menjadi manusia
6. Bagian dari tugas perkembangan

"Dina, dasar filosofi kamu mau berinteraksi apaan sih?"

Hmm... Aku kalau menjawab ya aku memiliki dasar eksistensi diri. Seperti misalnya, selain aku bersosial dengan manusia lainnya, aku juga bersosial melalui blog dan media sosial. Aku teringat dengan perkataan salah satu dosen Unair, Inisialnya Pak Cholichul (nggak ketebak kan? Sip :p). Beliau selalu berkata "Hee, kita sebagai manusia harus eksis. Anda itu harus dikenal minimal di 5 benua. Menulis adalah cara anda untuk eksis dan berinteraksi dengan mereka"
Begitulah kira-kira yang beliau katakan. Jadi aku berinteraksi dengan orang lain, karena aku merasa aku menjadi manusia seutuhnya. Manusia Sosial..

Oke?
Lanjut!
Tadi udah tentang dasar filosofinya, lalu dasar kebutuhannya kita mau berinteraksi dengan orang lain apa dong?

Di kelas Hubungan Antar Person tadi pagi juga membahas tentang kebutuhan seseorang akan bersosial atau motivasi seseorang untuk bersosial atau disebut dengan motivasi sosial. Karena banyak banget kebutuhan manusia mau bersosialisasi, aku ceritain aja kebutuhanku apaan, oke?

Sebenarnya nggak semua sih kita berinteraksi sosial dikarenakan ada kebutuhan apa-apa, ada yang cuma sekedar say hello. Ya aku nggak bakal bahas yg itu, aku bakal bahas interaksiku seharian ini. 
Pagi tadi pukul 8 pagi, di kelas Hubungan Antar Person, aku dan temanku membicarakan tentang tempat duduk di kelas itu. Aku mengajak mereka untuk duduk di urutan ke dua dari depan, tapi tempat duduk tersebut udah penuh, daripada aku duduk di depan sendiri ya udah aku duduk ikut dengan mereka. 
Terus yang kedua aku pergi ke rumah makan padang, disana aku berinteraksi singkat dengan penjualnya. Udah direncanain sih mau makan nasi padang, soalnya udah lamaaaa banget nggak kesana, ke tempat langgananku.
Terus kekenyangan akhirnya tidur selama 4 jam, bangun-bangun udah jam 5, ngeprint proposal buat bimbingan besok, terus aku ngepost di path tentang apa yg aku rasakan . Senang sih ada yang menanggapi.
Terus jam 8 malam pergi keluar beli nasi goreng langganan. Interaksi singkat lagi dong dengan penjualnya. Hahahaha
Dan yang terakhir adalah menulis blog ini. Menurutku ini juga interaksi sosial loh. Aku yang menyampaikan ide dan perasaan, kalian yang membaca dan mengomentari di kolom "komentar".

Sooooo....~ Dengan seharian interaksi ini, aku akan menganalisa kebutuhan interaksi sosialku.
Pertama, kebutuhan self esteem dan ego identity
Kedua, kebutuhan biological
Ketiga, kebutuhan altuirsm
Keempat, kebutuhan biological
kelima, kebutuhan altuirsm

Yang artinya adalaaaaaah....
Kebutuhan self esteem dan ego identity adalah in group dan out group yang akan menumbuhkan self image seseorang. Kebutuhan alturism adalah kebutuhan untuk membagi perasaan dan perilaku empati, dan kebutuhan biological adalah kebutuhan akan makanan.

Yap, begitulah kira-kira. Makasih udah membaca dan jangan lupa komennya yaaa...

Tuesday, February 24, 2015

Kuliah Hari Pertama di Semester 8

Halo Halo Halo Holaaaa~

Hari ini adalah hari pertama aku masuk kuliah di semester ini. Doain aja semoga ini adalah semester terakhir aku kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya tercinta ini. Huahahahahaha.. Well okay, hari ini jam 8 pagi tadi aku kuliah Hubungan Antar Person (haper). Hari pertama seperti biasa memberikan kontrak selama perkuliahan. 

Jadi kuliahnya berbeda seperti mata kuliah lainnya. Pemberian materi diberikan melalui presentasi tapi presentasinya ke kelompok-kelompok lain. Jadi nggak seperti presentasi biasa (Kalo kata bu dosenku tadi metode jig saw). Ya gitulah, aku lupa juga sih metode itu kayak gimana (That's why aku ngambil matkul psikologi belajar lagi. hihiihihi. nggak deng, aku ngulang biar lebih bagus nilainya gitu).

Nah, kuliah ini terdapat 8 materi yaitu:
1. Self Disclosure
2. Keterampilan berkomunikasi verbal
3. Keterampilan berkomunikasi non verbal
4. Keterampilan dalam presentasi dan menerangkan
5. Keterampilan dalam membangun image dan presentasi diri
6. Keterampilan bernegoisasi
7. Keterampilan dalam manajemen konflik
8. Pengembangan sosial skill seorang sarjana psikologi

Dari 8 materi ini tentu di kelas terdapat 8 kelompok yang terdiri dari 3-4 orang. Terus aku dapat kelompok "keterampilan dalam presentasi dan menerangkan". Pengennya sih dapet self disclosure atau keterampilan komunikasi, tapi ya udahlah syukuri aja. hehehe

Kalian tahuuuuuu???? Sekali lagi aku diminta untuk menulis blog!! Sama seperti matkul Humanistik kemarin. Tapi bedanya kalo humanistik yang di post hanya UTS dan UAS aja, sedangkan kalo Haper usahakan tiap minggu ngepost di blog sesuai dengan materi kuliahnya. Jadi, dengan kata lain suruh nulis diary. Ah, ini mendorongku untuk semakin rajin menulis.
Terus juga nantinya kita disuruh bikin modul pelatihan gitu. Pas akhir-akhir mau UAS baru penerapan modul.

Aku senengnya juga kuliah ini, kelasnya isi muridnya dikit jadi 1 kelompok juga dikit jadi menurutku nggak terlalu riweh nantinya. Itu aku senengnya.

Yap! Semoga di hari pertama kuliah di minggu pertama menjadi hari-hari yang baik untuk kedepannya hingga aku menyandang gelar S. Psi . Aamiin semester ini terakhir. Ganbatte!

Wednesday, January 28, 2015

Anak Psikologi Bisa Ngukur Tensi Layaknya Anak Kedokteran Loh!

Halo haloooo... Udah lama ya aku nggak muncul di blog? Haha iya nih kemaren-kemaren belum ada kepikiran mau ngetik apa. Saking lamanya nggak ngetik di blog sampe berdebu gini nih. Bentar aku sapu dulu ya..
Oh iya, sekarang udah tahun 2015 ya? Aku belum nyapa ya di blog pertama 2015 aku? Okelah ini udah disapa kan? Hahaha. Tahun 2015, Umur baru, semester baru, gaji baru, sekolah baru, pacar baru (eh?). Pokoknya di tahun 2015 semua yang menjadi resolusi di tahun-tahun sebelumnya bisa terlaksana di tahun ini yaa. Aamiin...

Nah, kali ini aku mau ngetik tentang salah satu kegiatan KKN aku aja ya (iya nih aku lagi masa KKN sampe bulan Februari nanti. doain lancar jaya yaa). Salah satu kegiatan KKN yang paling menyenangkan adalah "Cek Tensi dan Gula Darah Untuk Para Manula". Kegiatan ini merupakan kegiatan ketiga KKN aku yang dilaksanakan pada 21 Januari 2015 dan kalian tau, aku kedapetan bagian yang ngukur tensinya. Jadi awalnya gini....



Sebelumnya, malem jam berapa gitu aku lupa. Pokoknya sekitar jam 8. Aku dateng ke rumah temen KKN aku. Soalnya emang udah janjian ngumpul disana. Kucuk kucuk kucuk naik taksi, sampainya aku disana ternyata cuma ada lima orang (termasuk pemilik rumah) yang hadir. Dari 14 anak cuma 4 orang yang dateng. Ya udah deh aku langsung ditawarin "Dina coba diajarin ngukur tensi". Ya udah aku coba ngukur tensi. Sebenarnya sih aku bisa nebak-nebak cara ngukur tensi gimana secara aku selalu di cek tensinya. Saking seringnya diukur sampe tau gimana cara bacanya. Cuma ya tetep aja nggak tau-tau banget.

Ya gitu, aku belajar ngukur. Semua penghuni di rumah tersebut aku ukur tensinya. Hahaha... Temen-temen aku yang bagian cek gula darah juga belajar gimana cara ngeceknya dan jariku yang jadi sasarannya. Nggak apa-apa sih. Akunya aja yang menawarkan diri. Terbiasa ditusuk-tusuk jarum (keseringan sakit sih). Gitu deh. Cuma sejam terus aku pulang.

Besok paginya mulai beraksi. Acara dimulai jam 8 pagi. Jam 8 lebih beberapa menit udah dateng pasien pertama. Sekitar tiga atau empat orang deh yang dateng. Awalnya rada ribet masang stetoskop (soalnya aku pake kerudung sih, jadi rada susah masukin ke telinga). Terus nyari nadi, pencet-pencet, denger denyutnya. Nah! Denger denyutnya yang rada susah, jadi patokanku getaran di jarum tensinya aja. Hihihihi.. Udah selesai ngukur, rempong lagi ngelepasin stetoskop dari telinga.


*Foto yang ini masih rada sepi pasien


Selang beberapa waktu kemudian, kira-kira satu jam mulai deh bejibun yang datang. Nonstop pula! Ada yang 120/90 ada yang 140/100 bahkan ada yang 160/110 (Ini tensinya pak lurah. Aku yang ngukur). Terus juga sebelumnya aku tanyain dong "Pak, tensi terakhir berapa?". Di jawab sama bapaknya "110/70". Terus aku ukur dong, eh tau-tau jadi 140/90.. Namanya juga masih belajar aku pikir kok tensinya tinggi banget. Bapaknya ngeliat aku rada nggak percayaaa :'( . Aku udah ngukur sampe 4 kali hasilnya tetep segitu. Ya emang sih aku harusnya nanya "makan apa pagi ini? Semalam tidurnya cukup? Suka stress nggak akhir-akhir ini.. blablabla" ya itulah pokoknya dan nyaranin jangan makan itu jangan makan itu. Aku pengennya gitu, tapi bapaknya mukanya udah kayak nge-cuih gitu ke aku. Ya udah deh aku langsung aja suruh ke cek gula darah. 


*Tenang.. Bukan yang ini kok bapaknya. Ini kondisi lagi rame-ramenya. Nggak keliatan emang, tampak belakang soalnya -.-


*Ini mulai rada sepi. Itu bapak dan ibuknya datengnya juga rada belakangan sih

Ya gitu.. Kurang lebih 1,5 jam deh ramenya.. Terus akhirnya kita pun bernyanyi bersama dengan para manula. Nyanyi marsnya mereka.. 


*Ini nyanyi bersama~

Hihihi... Seru bangeeeet....



Foto kenang-kenangan bersama Karang Weda Kelurahan Bendul Merisi, Kecamatan Wonocolo, Kota Surabaya

Thursday, January 22, 2015

Rezeki?? (percaya & yakin)



Tadi aku membahas sesuatu di Line bersama temenku, Andaru. Kami membahas tentang rezeki. Kita selalu mendengar nasehat "Jangan berbuat maksiat, nanti pintu rejeki ketutup". Terlintas dibenak aku, kenapa? Ada tuh yang selalu berbuat maksiat bahkan menyekutukan Allah tetapi rejekinya lebih baik daripada mereka yang selalu beribadah, tidak berbuat maksiat, pokoknya jalannya lurus-lurus aja. Aku mempertanyakan itu. Sempat terlintas untuk mempermasalahkan, tetapi aku yakin pasti ada jawabanya. Temanku hanya memberi jawaban "yakin dan percaya sama Allah". Menurut aku itu bukan jawaban yang mau aku dapat. Aku mau sesuatu yang jelas dan bisa dimasuk akal.

Hingga pada akhirnya masuk waktu sholat magrib. Di dalam doa seusai sholat aku berdoa seperti berdikusi dengan Allah, aku bertanya "Kenapa ya Allah? Maaf jika aku bertanya yang sepertinya tidak pantas tapi aku benar-benar ingin tahu jawabannya apa. Karena itu menjadi tanda tanya yang besar di otak aku". Terus terus dan terus memikirkan itu sambil bermain games.

Terlalu dipikir sampai sholat Isya pun masuk. Mandi lalu mengambil wudhu. Seusai ambil wudhu, ntah darimana aku tiba-tiba tahu jawabannya. Aku Tahu Jawabannya! Selama berinteraksi sama Allah aku merasakan kegembiraan atas jawaban yang aku dapat. Jawabannya itu adalah.....

Semua yang ada di dunia ini adalah sementara. "Ingat, Yi. Kamu selalu berdoa meminta sama Allah jauhkanlah dari fitnah dunia. Materi adalah fitnah dunia. Orang yang rejekinya berlimpah itu sudah terlena dengan fitnah dunia. Lagian, kamu yakin kan dengan hari di akhirat nanti? Kita di dunia lagi ujian, lagi menabung amal, bukan menabung materi. Percaya dan yakinlah dengan balasan yang Allah kasih kepada orang-orang yang terus mendekatkan diri kepada Allah, bukan terlena dengan duniawi."

Alhamdulillah. Menurutku itulah jawaban yang aku dapat secara tiba-tiba. Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah.Ampuni aku jika aku terlupa akan kekuasaanmu, ya Allah:(

Tidak lama, temanku melihat tweetku dan ia pun menghubungiku via line untuk menjawab pertanyaanku yang membuat jawaban, pemahaman, dan keyakinanku semakin bertambah, Ini chat dari temenku....


gambar 1



gambar 2



gambar 3



gambar 4



gambar 5


gambar 6


Mungkin menurut kalian jawaban temenku terpaut jauh dari pertanyaanku tapi cobalah baca lagi. Justru kunci yang di dapat adalah Allah itu maha adil. Sesuatu yang terlihat baik di dunia belum tentu baik di akhirat. Ingat, jangan sampai terlena dengan dunia.

Jadi jawabannya apa, Dina? Jawabannya adalah percaya dan yakin sama Allah maha adil. Rejeki yang baik adalah rejeki yang dihasilkan oleh orang yang mau berusaha dengan cara yang halal, bukan dengan cara yang maksiat. Kaya di dunia miskin di akhirat emang mau? Mending cukup tapi perbuatan kita jauh dari maksiat daripada banyak tapi membutakan hati dan pikiran, bahkan sampai mendewakan uang. Nau'zubillah min zalik (kami berlindung dengan Allah dari perkara buruk tersebut menimpa kami)

Sunday, December 7, 2014

Psikologi Humanistik UAS GASAL 2014 : Kasus Psikologi Positif (3)

INTRODUCTION
Hijab merupakan suatu kain yang menutupi kepala pada wanita. Hijab juga merupakan suatu simbol yang menandakan bahwa wanita tersebut adalah seorang muslimah. Arti dari hijab memiliki banyak makna di dalam kamus dan di dalam Qur’an. Ada yang mengatakan bahwa hijab merupakan sebuah proteksi yang dapat menjaga seorang wanita dari pelecehan (Beik, 2007). Menurut pengertian lain juga hijab merupakan suatu hal yang dapat mencegah, menghindar, atau menghalangi dengan cara berkerudung, membungkus, menutupi, atau melindungi karena untuk mencegah pandangan atau perhatian (Lane, 1984). Di dalam Qur’an, konsep mengenai hijab itu sendiri memiliki makna ganda yaitu tidak hanya sebagai pelindungi tetapi juga dapat menghindari hal-hal yang tidak diinginkan (Ruby, 2005). Di dalam islam, mengenakan hijab bagi wanita yang telah akil baligh merupakan hal yang wajib. Sesuai dengan apa yang dikatakan di dalam Qur’an yaitu surat an-Nur ayat 31:
(Wahai Rasulullah) Dan katakanlah kepada kaum wanita yang beriman  agar mereka menahan pandangan mereka dan menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali sesuatu yang (biasa) tampak darinya. Hendaknya mereka menutupkan kerudung mereka ke dada mereka (sehingga dada mereka tertutupi), janganlah menampakkan perhiasan mereka kecuali untuk suami-suami mereka, atau ayah dari suami-suami mereka atau putra-putra mereka, atau anak laki-laki dari suami-suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara-saudara laki-laki mereka, atau anak laki-laki dari saudara-saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita mereka atau budak-budak mereka atau laki-laki (pembantu di rumah) yang tidak memiliki syahwat atau anak kecil yang tidak paham terhadap aurat wanita. Dan janganlah kalian mengeraskan langkah kaki kalian sehingga diketahui perhiasan yang tertutupi (gelang kaki). Wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kalian semua kepada Allah swt supaya kalian termasuk orang-orang yang beruntung.”

Dari ayat diatas dapat disimpulkan beberapa poin penting yaitu seorang wanita muslimah hendaknya menutup pandangan mereka dari pandangan yang penuh syahwat kepada laki-laki yang bukan muhrimnya, wajib bagi wanita untuk menutup auratnya di depan laki-laki non murihmnya, wajib menutupi perhiasan dan tubuh mereka, dan wanita hanya boleh memperlihatkan tubuh dan perhiasannya hanya dihadapan muhrimnya.
            Hijab ini tidak hanya sebagai simbol tetapi juga sebagai identitas seorang muslim. Namun, identitas diri tidak hanya ditunjukkan dengan cara apa yang kita tampilkan di depan umum, tetapi juga bagaimana persepsi orang lain dalam memandang kita. Salah satu cara bagaimana mengetahui dan memahami orang lain dalam memandang kita yaitu dengan cara melalui media yang ada. Media memiliki kekuatan yang besar dalam berperan untuk mensugesti, mengusulkan, dan membentuk national dan identitas pribadi (Ruby, 2005). Ada beberapa penelitian yang dilakukan oleh Bullock dan Jafri (2000), Jafri (1998), dan Kutty (1997) yang menunjukkan tentang media di Amerika Utara terlalu sering menggambarkan image mengenai wanita muslimah yang tertindas. Menurut media, mengenakan hijab terlihat begitu kuat untuk menindas wanita muslimah, dan mayoritas artikel mengenai hijab menduga bahwa hijab merupakan bentuk untuk menaklukan wanita muslimah. Contoh media yang memberikan stereotipe negatif ini adalah: “Wearing a uniform of oppression” (The Globe and Mail, 1993), “Women’s legacy of pain” (Toronto Star, 1997), “The new law: Wear the veil and stay alive” (The Globe and Main, 1994), “Lifting the veil of ignorance” (Toronto Star, 1996) (Bullock & Jafri, 2000; Jafri, 1998).
            Ada beberapa kejadian spesifik di salah satu wilayah Amerika yaitu di Canada yang mendukung media dimana tidak memberi toleransi tentang hijab. Di Montreal pada tahun 1994, siswa dipulangkan ke rumah oleh pihak sekolah karena mengenakan hijab (Shakeri, 2000). Persis dengan kejadian yang sama pada tahun 1995 di Quebec seluruh guru yang ada di sana melarang untuk berhijab di sekolah (Shakeri, 2000). Diskriminasi terhadap siswa yang mengenakan hijab tidak hanya ada di Motreal dan Quebec, bahkan di Saskatoon juga mengalami hal yang sama (Ruby, 2005). Stereotipe negatif terhadap hijab makin mencuat semenjak New York diserang pada tahun 2001 dan semenjak itu hijab diindetikan dengan wanita teroris.
            Meskipun hijab begitu buruk di mata orang Amerika, tetapi masih banyak yang tetap memutuskan untuk berhijab. Berbeda dengan yang ada di Amerika, di London hijab merupakan suatu fenomena yang dapat diterima oleh masyarakat London. Meskipun pada saat ada itu ada konferensi yang membahas tentang penolakan untuk mengenakan hijab di Eropa, tetapi tidak untuk di London karena hukum yang ada di London bersifat toleransi dan masyarakat London menerima perbedaan yang ada disekitar (Tarlo, 2007). Di London, hijab merupakan suatu hal yang populer di antara masyarakat kelas menengah. Beberapa wanita di London mulai memutuskan untuk mengenakan hijab. Tidak hanya karena trans budaya yang menyebabkan mereka bertindak demikian, tetapi juga karena ada faktor lain seperti jatuh cinta kepada orang, bertahan hidup dari suatu penyakit, mendatangi pertemuan antar orang Arabic, dan bekerja bersama imigran yang berasal dari negara yang berbeda.
Wanita di London memutuskan untuk berhijab lebih dipengaruhi oleh relasi sosial. Salah satunya adalah partisipan yang bernama Loraine (Tarlo, 2007). Pada saat ia berusia 17 tahun ia bertemu dan jatuh cinta kepada laki-laki muslim yang bernama Gurajati Kenyan yang berasal dari Inggris. Kekasih Loraine adalah laki-laki yang sangat religious, ia selalu rajin untuk sholat jumat dan berpuasa. Tidak hanya itu, Loraine juga bertemu dengan keluarga kekasihnya dan ia begitu tertarik dengan seorang perempuan yang begitu menemuki agamanya. Ia pun mulai mencari informasi mengenai islam lewat membaca buku, mencarinya di internet, dan menghadiri kelompok interaksi antar wanita muslimah yang ada di kampusnya. Loraine begitu antusias dan pada tahun 2004, Loraine memutuskan untuk menjadi muslim dan mengenakan hijab seutuhnya. Semenjak itu, ia menemukan arti hidup yang baru.
            Dari cerita partisipan yang bernama Loraine, ia menemukan suatu perubahan atas karena apa yang ia amati dari orang terdekatnya. Hasil dari pengamatan tersebut yang merupakan salah satu bentuk dari pengalaman yang pada akhirnya seseorang memutuskan untuk mengenakan hijab.

QUESTION???
            Rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Bagaimana proses yang dialami pada seseorang sehingga akhirnya memutuskan untuk mengenakan hijab?”.

RESEARCH METHOD
            Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Tipe dalam penelitian ini merupakan tipe penelitian studi kasus, yaitu mempelajari fenomena khusus yang hadir dalam suatu konteks yang terbatasi (bounded context) meskipun terkadang batas antara fenomena dan konteks tidak sepenuhnya jelas (Poerwandari, 2005).

WHO???
            Partisipan dalam penelitian ini hanya satu orang. Partisipan berusia 20 tahun dan sedang menempuh pendidikan jenjang S1 di salah satu perguruan tinggi yang ada di kota Surabaya.

RESULT
            Berikut ini adalah kesimpulan dari hasil wawancara dengan partisipan mengenai proses dari keputusan:

Interviwer
Interviewee
Keterangan
Sudah mengenakan hijab berapa lama?
Kurang lebih sudah 3 bulan.
Partisipan telah mengenakan hijab selama kurang lebih 3 bulan
Apa alasan dulu menunda mengenakan hijab?
Karena menurut saya untuk berhijab tidak hanya menutupi kepala, tetapi juga menjaga ucapan dan perilaku. Pada saat itu saya masih belum mampu untuk itu.
Alasan partisipan untuk enggan mengenakan hijab sebelumnya
Lalu apa yang menyebabkan anda mengenakan hijab?
Awal mula saya mengenakan hijab karena saya pada saat itu sedang ditimpa masalah.
Latar belakang mengenakan hijab
Coba ceritakan masalah tersebut
Pada saat itu saya tiba-tiba dilamar oleh seorang laki-laki yang belum begitu saya kenal. Saya bingung bagaimana menjawab lamaran tersebut. Berdiskusi dengan keluarga itu tidak cukup bagi saya. Tidak tahu mengapa di dalam hati saya ingin beribadah dengan Tuhan. Lalu saya berdoa dan bernazar. Jika keputusan ini baik untuk saya, maka saya akan mulai berubah dan berhijab
Proses memutuskan untuk berhijab
Lalu setelah anda menjawab lamaran dari laki-laki tersebut, apa yang anda lakukan?
Saya menerima lamaran laki-laki tersebut dan akhirnya saya berhijab. Untuk berhijab tentu tidak langsung begitu saja. Saya pun berbicara dengan orang tua saya mengenai niat saya tersebut. Keputusan saya untuk berhijab pun diterima dan didukung sepenuhnya. Saya pun diajari bagaimana mengenakan hijab, dibelikan beberapa hijab, dan mulai mengenakan baju yang tidak begitu ketat.
Proses untuk berhijab
Dampak apa yang anda rasakan setelah memutuskan untuk berhijab?
Saya merasa dilindungi dengan pakaian yang tertutup seperti ini. Saya mulai merasa batin ini menjadi tenang, lebih ikhlas dan sabar, bisa menerima kritik orang lain. Itensitas ibadah saya juga bertambah, yang dulunya bisa dikatakan saya tidak pernah beribadah, sekarang saya mulai rajin beribadah.
Perubahan positif yang dirasakan oleh partisipan

DISCUSSION
            Psikologi positif berakar dari psikologi humanisme yang pembahasannya berfokus pada kebermaknaan dan kebahagiaan. Kebahagiaan menjadi isu utama yang didiskusikan dalam psikologi positif. Banyak hal sebenarnya yang menjadi faktor kebahagiaan seseorang seperti harta, pernikahan, kehidupan sosial, usia, kesehatan, agama, dan rasa syukur. Dalam penelitian ini, agama merupakan faktor yang menyebabkan seseorang menjadi lebih bahagia dan bermakna. Meskipun aliran psikoanalisa dan behaviorisme menganggap agama adalah hanya ilusi dan perilaku takhayul, pandangan-pandangan negatif tersebut hilang tidak lama kemudian. Justru orang yang beragama relatif lebih optimis dalam menjalani kehidupan dan memiliki harapan untuk terus berkembang. Di Indonesia sendiri berkembang penelitian mengenai pengaruh kehidupan beragama terhadap kebermaknaan hidup dan kebahagiaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi kualitas agama seseorang, maka semakin bermakna dan bahagia hidupnya.

CONCLUSION
            Kesimpulan dari penelitian ini adalah peristiwa awal mulanya partisipan memutuskan untuk berhijab ketika ia mulai menghadapi masalah yang orang disekitarnya tidak dapat membantunya. Ketika ia merasa tidak mendapatkan jawaban, ia pun merasakan ada dorongan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Tidak hanya itu, ia pun bernazar untuk berhijab yang sebelumnya partisipan enggan untuk berhijab lantaran masih tidak dapat menjaga perilaku dan ucapannya. Semenjak ia berhijab, ia pun mulai untuk rajin beribadah dan ia pun merasakan hal positif yang berkembang di dalam dirinya yaitu menjadi lebih tenang, lebih sabar, dan bisa menerima kritikan dari orang lain.

LIMITATION
            Kekurangan dari penelitian ini adalah peneliti kurang menggali lebih mendalam mengenai bagaimana respon lingkungan ketika partisipan telah menjadi seseorang yang lebih beragama dibanding sebelumnya.

REFERENCE 
Beik, R. A., (2007). Hijab dalam syariat islam. Diakses pada tanggal 10 Oktober 2014 melalui http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/044.htm
Cacioppo, J. T., Hawkley, L. C., Rickett, E. M., Masi, C. M. (2005). Sociality, Spirituality, and Meaning Making: Chicago Health, Aging, and Social Relations Study, Vol 9 (2), 143-155.
Compton, W. C. (2005). Introduction to Positive psychology. Thomson Wadsworth.
Gumiandari, S. (2013). Dimensi Spiritual dalam Psikologi Modern, 1033-1052.
Khan, M. W. (2001). Spirituality in Islam. Broklyn: Goodword books.
Ruby, T., F. (2005). Listening to the voices of hijab, 54-66.
Tarlo, E., (2007). Hijab in London: Metamorphosis, Resonance and Effects. Journal of Material Culture, 12 (2), 131-156.
Taufik. (2012). Positive Psychology: Psikologi Cara Meraih Kebahagiaan. Surakarta; Universitas Muhamadiyah, Seminar Nasional Psikologi Islami.


Powered by Blogger.